
Hari kemenangan tinggal menghitung hari. Aroma opor sudah mulai tercium dari dapur, baju baru mungkin sudah tergantung di lemari. Anak-anak sibuk mencoba sandal barunya, sementara orang tua menyiapkan daftar belanja terakhir. Suasana Lebaran memang selalu punya rasa yang khas. Namun pertanyaan yang lebih penting: apakah hati kita sudah benar-benar “baru”?
Saya pernah melihat seorang kenalan yang tidak bertegur sapa dengan saudaranya berbulan-bulan hanya karena masalah sepele. Menjelang Lebaran, wajahnya tampak lelah. Bukan karena kurang tidur, tapi karena ia membawa “ransel” penuh batu kemarahan di punggungnya. Bayangkan, betapa berat hidup kalau setiap hari kita menenteng dendam. Bukankah itu sama saja menyiksa diri sendiri?
|Klik untuk mengetahui kegiatan SMP Integral Hidayatullah Kebumen
Hati sejatinya adalah tempat Allah menoleh. Tapi bagaimana kalau hati itu penuh sampah kebencian? Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin pernah mengingatkan tentang pentingnya tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Beliau menggambarkan hati seperti cermin. Kalau cermin itu berdebu, penuh noda dendam, maka cahaya Allah tidak akan bisa memantul di dalamnya. Artinya, kita tidak akan merasakan manisnya iman, apalagi manisnya Idulfitri.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran: 134:
“…orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Mari kita perhatikan urutan pesan dalam ayat tersebut. Allah tidak hanya memerintahkan kita menahan marah (al-kazhimin al-ghaizh), tetapi juga melanjutkannya dengan memaafkan (al-‘afina ‘aninnas). Menahan marah itu ibarat menutup bara api dengan sekam—panasnya tetap terasa. Namun memaafkan seperti menyiram api dengan air sejuk. Tenang, adem, damai.
Di penghujung Ramadan, kita diajarkan doa: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku). Kita menangis meminta ampunan Allah, tapi sering kali pelit memberi maaf kepada manusia. Padahal Allah bertanya langsung dalam QS. An-Nur: 22: “…apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” Kalau kita ingin Allah menghapus dosa-dosa kita, maka kita juga harus berani menghapus kesalahan orang lain terhadap kita.
|Menjemput Cahaya di Ujung Ramadhan: Menghidupkan Malam Tahajud dan I’tikaf
Memaafkan Adalah Kemuliaan
Rasulullah SAW pun mengingatkan dalam hadits riwayat Muslim: “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan sifat pemaaf kecuali kemuliaan.” Jadi jelas, memaafkan bukan kelemahan. Justru itu tanda kemuliaan. Orang yang memaafkan jiwanya besar. Mentalnya mental juara. Sebaliknya, orang yang pendendam hidupnya sempit, terpenjara oleh bayangan orang lain.
Dr. Aidh al-Qarni dalam kitab La Tahzan menulis dengan bahasa sederhana namun menghujam: jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaanmu. Maksudnya, kalau kita menyimpan dendam, berarti kita memberi ruang bagi orang yang menyakiti kita untuk “tinggal” di pikiran kita setiap hari. Gratis pula. Bayangkan, orang itu sudah menyakiti kita, lalu masih kita biarkan menginap di kepala kita. Bukankah itu merugikan? Maka usirlah dia. Caranya? Maafkan. Dengan memaafkan, kita membersihkan kamar hati dari tamu yang tidak diundang.
Menjelang gema takbir, mari kita mulai. Jangan tunggu orang lain datang meminta maaf. Jadilah yang pertama. Memaafkan sepihak itu rasanya luar biasa plong. Seperti melepaskan ikatan tali yang menjerat leher. Kita tidak perlu menunggu orang itu sadar. Biarlah urusannya dengan Allah menjadi urusannya. Tapi urusan damainya hati kita adalah prioritas kita.
Para ulama salaf sering menyampaikan, salah satu tanda diterimanya amal Ramadan adalah akhlak yang berubah menjadi lebih lembut. Kalau setelah sebulan puasa hati kita tetap keras, penuh kebencian, maka kita perlu bertanya: puasa kita kemarin itu menahan lapar saja, atau benar-benar menahan nafsu?
Idulfitri jangan sampai ternodai oleh wajah yang masam atau suasana canggung saat bersalaman. Jangan biarkan “maaf lahir batin” hanya jadi pemanis bibir di pesan WhatsApp atau status media sosial. Jadikan ia getaran dari dalam dada.
Coba sebut nama orang yang pernah menyakiti kita dalam doa malam malam ini:
“Ya Allah, si fulan pernah menyakitiku. Tapi demi ridha-Mu di bulan penuh berkah ini, aku telah memaafkannya. Lapangkanlah dadaku sebagaimana Engkau melapangkan ampunan-Mu untukku.”
Percayalah, setelah doa itu, tidur kita akan lebih nyenyak. Opor Lebaran terasa lebih nikmat. Dan yang paling penting, sujud kita di hari raya nanti akan terasa lebih dekat dengan Allah, karena tidak ada lagi hijab kebencian yang menghalangi.
Mari sambut kemenangan dengan jiwa yang benar-benar merdeka. Merdeka dari nafsu, merdeka dari dendam, merdeka dari belenggu masa lalu.
Semoga Allah melembutkan hati kita semua. Selamat menjemput fitrah, selamat menjadi pribadi yang pemaaf.
Alfaqir Akhmad Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen
