Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu punya rasa yang berbeda. Seolah ada bisikan rahasia besar yang hanya bisa ditangkap oleh hati yang rindu ampunan. Di luar sana, orang-orang sibuk dengan persiapan hari raya, baju baru, kue lebaran, dan segala macamnya. Tapi di dalam masjid, ada dunia lain. Dunia yang lebih tenang, lebih jernih, lebih dekat dengan Allah.

Inilah waktu “prime time” untuk mengetuk pintu langit. Saatnya menepi dari hiruk-pikuk dunia, membasuh luka batin dengan sujud Tahajud, dan mendekap ketenangan dalam dekapan I’tikaf.

Ada sebuah cerita dari seorang Ustadz, suatu malam, alarm berbunyi pukul 02.30. Rasa kantuk begitu berat, mata enggan terbuka. Hati pun berbisik, “Tidurlah lagi, toh besok masih ada waktu.” Tapi ada suara lain yang lebih lembut, seakan mengingatkan, “Bangunlah, ini kesempatanmu untuk bertemu dengan Rabbmu.”

Dengan langkah pelan, Ustadz tersebut menuju masjid. Di sana hanya ada beberapa orang yang sudah tenggelam dalam doa. Suasana hening, hanya terdengar desahan napas dan lantunan ayat suci Al-Quran. Saat berdiri dalam Tahajud, Ustadz tersebut  merasakan seolah Allah benar-benar dekat.

|Klik untuk mengetahui kegiatan SMP Integral Hidayatullah Kebumen

Dalam sujud panjang itu, ada dialog batin yang jujur:

“Ya Allah, aku sering lalai, aku sering sibuk dengan dunia. Tapi malam ini aku ingin kembali.”

“Aku bukan hamba yang sempurna, tapi aku ingin Engkau ridha.”

Firman Allah dalam QS. Al-Isra: 79 kembali terngiang:

Dan pada sebagian malam hari tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji (Maqaman Mahmuda).”

Ayat itu terasa seperti janji cinta, dan benar, saat air mata jatuh di atas sajadah, Ustadz tersebut merasakan kelegaan yang tak bisa digantikan oleh apapun. Tahajud bukan sekadar ritual, ia adalah tangga menuju kedekatan, doa yang melesat tepat mengenai sasaran.

|Baca juga tentang Ramadhan Power : Mengubah Lapar Menjadi Karya, Mengubah Dahaga Menjadi Pahala

Pengalaman i’tikaf Ustadz begitu membekas. Malam itu, Ustadz membawa sajadah, mushaf, dan sedikit bekal. Begitu masuk masjid, ada rasa damai yang berbeda. Seolah dunia di luar berhenti, dan hanya ada Allah di hadapan.

Seorang sahabat yang juga ikut i’tikaf sempat berbisik:

“Ustadz, rasanya kayak kita benar-benar lari dari dunia ya?”

Ustadz tersenyum dan menjawab,

“Iya, ini seperti firman Allah: Fafirruu ilallah  (lari menuju Allah).”

Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam masterpiece-nya Fathul Mu’in mendefinisikan i’tikaf sebagai “Luzumul masjid lil ibadah Ma‘a al-niyyah” (menetap di masjid untuk ibadah dengan niat). Beliau menekankan bahwa i’tikaf harus disertai dengan niat yang tulus. I’tikaf adalah cara kita “melarikan diri” dari dunia menuju Allah.

Di sudut masjid, Ustadz membuka Al-Qur’an. Ayat demi ayat terasa menembus hati. Kadang ustadz berhenti, menangis, lalu berdoa. I’tikaf membuat Ustadz sadar bahwa manusia bisa hidup tanpa gawai, tanpa obrolan sia-sia, tanpa kesibukan dunia, yang benar-benar dibutuhkan hanyalah Allah.

Ustadz teringat hadits Aisyah RA yang juga tertera dalam Riyadhus Shalihin:

Bahwasanya Nabi SAW melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari & Muslim).

Jika Rasulullah yang sudah dijamin surga saja begitu tekun, bagaimana dengan kita yang penuh dosa?

Di malam ganjil, suasana terasa lebih khusyuk. Ada harapan besar: “Mungkin malam ini Lailatul Qadar.” Ustadz berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”

Saat doa itu terucap, Ustadz merasa seakan Allah benar-benar mendengar. Ada rasa ringan, ada harapan baru. Satu sujud di malam itu terasa lebih berharga daripada seluruh sujud yang pernah dilakukan sebelumnya.

Ramadhan akan segera pergi. Ia akan menjadi saksi, apakah kita termasuk orang yang beruntung atau merugi. Jangan biarkan malam-malam terakhir ini hanya diisi dengan urusan baju baru atau kue lebaran.

Mari kita kumpulkan sisa semangat. Basuh wajah dengan air wudhu, tegakkan punggung dalam rukuk, rendahkan dahi dalam sujud. Biarkan dunia menangis karena kita tinggalkan sejenak, agar penduduk langit tersenyum menyambut taubat kita. Tahajud adalah tangga menuju kedekatan dengan-Nya, dan i’tikaf adalah benteng yang menjaga hati dari kelalaian. Keduanya menjadi jalan untuk kembali menuju cahaya-Nya.

Alfaqir  Akhmad Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *