Ramadhan kembali hadir, mengetuk pintu hati kita dengan kesempatan emas untuk membersihkan jiwa. Namun mari kita jujur: apakah puasa kita masih sebatas menahan lapar dan dahaga, sekadar memindahkan jam makan? Di genggaman kita ada sebuah benda kecil bernama smartphone, yang setiap detiknya bisa meruntuhkan pahala yang kita susun sejak fajar. Tantangan besar di era digital adalah bagaimana menjaga lisan, mata, dan jempol agar tidak merusak nilai puasa.
Dulu, ghibah membutuhkan ruang dan waktu. Kini, ia menjelma menjadi komentar pedas, sindiran di status, atau obrolan di grup. Banyak orang merasa aman karena tidak mengucapkannya secara lisan, padahal ketikan jempol jauh lebih tajam dan abadi. Allah SWT memperingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah…
Mengonsumsi aib orang lain diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri. Betapa sia-sianya puasa jika timbangan amal justru merosot karena aktivitas digital yang tak terjaga.
Selain lisan dan jempol, mata juga diuji. Di era arus informasi, gambar dan video yang tidak pantas berseliweran hanya dengan satu tarikan jari. Banyak yang merasa aman melakukannya dalam kesunyian kamar, padahal setiap pandangan haram adalah racun yang mengeraskan hati. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur ayat 30:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka…”
Ayat ini menegaskan agar orang beriman menahan pandangan dan menjaga kehormatan. Puasa mata adalah jalan menuju kesucian hati. Sangat disayangkan jika jempol digunakan untuk menyebarkan konten yang mengeksploitasi aurat, karena dosa itu bisa terus mengalir meski pelakunya telah tiada.
|Klik untuk mengetahui kegiatan SMP Integral Hidayatullah Kebumen
Ramadhan dan Bijak Bermedia
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak berkepentingan sedikitpun terhadap usahanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Allah menginginkan perubahan akhlak, bukan sekadar perut kosong. Jika aktivitas digital kita masih dipenuhi hoaks dan konten tak bermanfaat, maka nilai puasa bisa menjadi sia-sia.
Di dunia maya, seseorang bisa bersembunyi di balik nama samaran. Namun, tidak ada ruang yang luput dari pengawasan Allah. Surah Qaf ayat 18 menegaskan bahwa setiap kata dicatat malaikat pengawas. Jejak digital adalah saksi abadi. Sekali keburukan disebarkan, ia bisa terus berbuah dosa meski pelakunya sudah tiada. Maka, Ramadhan adalah momentum untuk memasang “filter iman” dalam setiap aktivitas digital.
Ramadhan adalah saat terbaik untuk membersihkan jiwa. Mari kita lebih bijak dalam menggenggam teknologi. Jagalah hati dari menilai orang lain, sibukkan diri dengan memperbaiki kekurangan diri agar tidak ada waktu mencari cela sesama. Kendalikan pandangan, saat muncul konten yang tidak baik segera alihkan. Itulah wujud nyata ketakwaan di saat sepi.
Bijaklah sebelum berbagi. Tanyakan pada nurani: apakah postingan ini akan menjadi amal jariyah atau justru dosa jariyah? Hiasi gadget dengan zikir, jadikan smartphone sebagai sarana menyebarkan ayat suci dan ilmu bermanfaat.
Ramadhan datang hanya sekejap. Jangan biarkan hari-hari mulia ini terbuang karena aktivitas digital yang tak bernilai. Biarkan lisan kita basah dengan zikir, mata kita sejuk dengan ayat-ayat Tuhan, dan jempol kita hanya mengetik hal-hal yang membawa maslahat.
|Baca juga tentang Ramadhan Power : Mengubah Lapar Menjadi Karya, Mengubah Dahaga Menjadi Pahala
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim sejati adalah orang yang mana orang-orang Muslim lainnya merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)
Di era ini, “tangan” itu mewujud pada jempol kita. Semoga Allah memampukan kita menjaga mata, lisan, dan jempol, sehingga puasa kita diterima dan kita digolongkan sebagai hamba yang bertakwa.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
Alfaqir Akhmad Yunus, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen
Latest posts by Haryono Muji (see all)
- Puasa Lisan, Puasa Mata, Puasa Jempol: Menjaga Kesucian Hati di Era Digital - 7 Maret 2026
- Ramadhan Momentum Emas Memutus Rantai Kebiasaan Buruk - 23 Februari 2026
- Ramadhan Ceria Membiasakan Anak Puasa dengan Penuh Cinta - 18 Februari 2026
