Ramadan telah meninggalkan kita. Ia  membawa laporan puasa kita, sujud kita, doa-doa lirih kita saat malam malam Ramadhan. Ada satu pertanyaan  kita simpan di dalam  hati: “Setelah Ramadan pergi, apakah cahaya wajah kita ikut meredup? Apakah semangat belajar kita ikut layu?”

Sering terjadi, Ramadan selesai, semangat ibadah menurun. Suasana masjid menjadi lengang, mushaf kembali berdebu, dan bagi siswa, gairah mengejar prestasi seakan ikut “berbuka” tanpa batas. Padahal inti dari madrasah Ramadan adalah Taqwa. Sedangkan taqwa bukanlah benda mati yang hanya tinggal di masjid. Taqwa adalah bahan bakar paling murni untuk menyalakan prestasi kita —di kelas, di laboratorium, juga di setiap lembar buku pelajaran.

Bahkan Allah sudah menjamin :

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3).

Jalan keluar itu bukan hanya soal harta benda. Bagi kalian, ia bisa berupa cahaya yang tiba-tiba mampu menyingkap rumus fisika yang sebelumnya membingungkan. Rezeki itu bukan hanya uang jajan, tapi kemampuan dalam menyerap ilmu dengan cepat, mendapatkan  nilai ujian yang melampaui dugaan. Semua itu buah dari taqwa.
|Klik untuk mengetahui kegiatan SMP Integral Hidayatullah Kebumen

Belajar dari Sahur dan Dahaga

Mari kita ingat kembali. Selama tiga puluh hari, kita  sanggup bangun di saat dunia masih terlelap demi sahur. Kita sanggup menahan haus di siang terik. Kenapa? Karena ada ketaatan. Imam Al-Ghazali menyebut puasa sebagai riyadhah—latihan jiwa untuk menundukkan nafsu.

Kalau kita bisa menaklukkan perut, mestinya kita juga bisa menaklukkan rasa kantuk saat mengerjakan tugas. Kalau kita bisa disiplin menunggu waktu berbuka meski tinggal satu menit, mestinya disiplin belajar jadi perkara kecil. Siswa bertaqwa adalah mereka yang mampu memindahkan “disiplin langit” ke meja belajar. Mereka tidak kenal kata “nanti” atau “malas”, karena setiap detik waktu adalah amanah dari Allah SWT.

Puasa melatih kejujuran, kita bisa saja minum diam-diam di kamar mandi, tapi kita  tidak melakukannya. Kenapa? Karena kita  sadar bahwa Allah Maha Melihat. Itulah yang dinamakan  integritas.

Syaikh Zarnuji dalam Ta’limul Muta’allim menekankan sifat wara’ ,menjaga diri dari yang syubhat dan haram, merupakan  kunci agar ilmu benar-benar masuk ke dalam  hati. Nilai yang tinggi hasil menyontek mungkin tampak indah di rapor, tapi ia tidak akan memperoleh ketenangan. Allah telah  berjanji: “Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan pengajaran kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 282). Prestasi yang dibungkus taqwa melahirkan ilmuwan yang berakhlak, bukan sekadar orang yang  pintar tapi  rakus.

Prestasi besar tidak dilahirkan  dari jalan tol yang mulus. Ia lahir melalui pendakian yang terjal. Di sinilah posisi sabar yang kita  latih selama Ramadan berperan. Psikologi modern menyebutnya grit—ketekunan jangka panjang. Angela Duckworth membuktikan, bahwa  orang sukses bukan orang yang paling jenius, tapi orang yang paling gigih.

Dalam Islam, itulah yang dinamakan sabar. Sabar dalam  mengulang hafalan, sabar dalam membedah soal sulit, sabar dalam menahan godaan game online. Siswa bertaqwa melihat kesulitan bukan sebagai tembok penghalang, tapi sebagai tangga untuk naik kelas di mata Allah.

Peran Guru dan Orang Tua

Kesuksesan siswa tidak berdiri sendiri. Ada peran doa doa orang tua, ada keteladanan guru di ruang kelas. Ibnu Qayyim mengingatkan, tugas orang tua bukan hanya memberi makan dan biaya sekolah, tapi menanamkan ruh taqwa.

Ibu, Bapak, jangan hanya bertanya “berapa nilaimu hari ini?” tapi tanyakan juga: “anakku, Sudahkah engkau jujur hari ini? Sudahkah engkau melibatkan Allah dalam belajarmu?” Doa orang tua adalah booster yang  mampu menembus langit. Bapak dan Ibu guru pun demikian, mengajarlah dengan melibatkan hati. Jadikan  siswa sebagai ladang pahala. Siramilah benih mereka dengan keikhlasan. Sinergi antara doa – doa orang tua dan keteladanan bapak ibu guru adalah pelindung paling kokoh bagi mentalitas siswa.

Rasulullah SAW bersabda: “Ibadah yang paling dicintai Allah adalah yang istiqomah meski sedikit.” (HR. Muslim).

Jangan biarkan taqwa itu luntur bersama baju lebaran yang masuk lemari. Mari kita jadikan shalat awal waktu sebagai jangkar harian kita. Kalau shalat kita  tertib, urusan dunia kita  ikut tertib. Mari kita Jadikan sedekah ilmu sebagai bentuk syukur. Membantu teman yang kesulitan, karena saat kita  memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita.

Ramadan boleh berakhir , tapi mentalitas “Pemenang Ramadan” harus tetap berdenyut dalam nadi. Mari kita buktikan, siswa bertaqwa adalah siswa paling berprestasi, paling tangguh, paling bermanfaat bagi umat.

Semoga Allah membimbing setiap langkah kita, melapangkan hati dalam menuntut ilmu, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sukses di dunia serta mulia di akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.


Alfaqir  Akhmad Yunus, M.Pd.I. Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Yayasan Al Iman Kebumen. Mengelola Daycare dan RA Yaa Bunayya, SDIT Al Madinah, SMP Integral Hidayatullah, Kebumen

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *